KONSEP SUPRANATURAL

Posted: Mei 17, 2011 in PENGANTAR ILMU GHOIB

Tafsir Spiritual dari Peristiwa Supranatural  Al-Quran berulangkali menjelaskan kekuatan supranatural yang dianugerahkan Tuhan kepada para rasul. Sulaiman as memahami bahasa burung, menundukkan makhluk gaib seperti jin dan Ifrit, menaklukkan angin sehingga angin bergerak sesuai dengan perintahnya. Daud as melunakkan besi dengan jari-jarinya. Ibrahim as mengubah panas api menjadi dingin dan menghidupkan burung yang sudah dicincang-nya. Musa as mengalahkan tukang-tukang sihir, membelah lautan, dan mengeluarkan air dari bebatuan semuanya dengan tongkatnya. Isa as menyembuhkan yang sakit dan meng-hidupkan yang mati. Yusuf as menyembuhkan kebutaan ayahnya  dengan mengusapkan pakaiannya ke matanya. Muhammad saw  membelah bulan.Di samping kekuatan supranatural, Al-Quran menceritakan juga pengetahuan supra-natural (ilmu gaib) yang dimiliki para Nabi as:

1.Nabi Adam as mengetahui nama-nama  yang tidak diketahui oleh para malaikat (QS. Al-Baqarah 31-33). 2.Nabi Nuh as mengetahui bahwa  tidak akan bertambah orang yang beriman kepadanya dan bahwa orang-orang kafir di tengah-tengah kaumnya hanya akan melahirkan generasi yang durhaka saja (QS. Hud 36; QS. Nuh 26-27). 3.Nabi Ibrahim as melihat (diperlihatkan kepadanya) alam malakut di langit dan bumi (QS. Al-An’am 75).4.Nabi Ya’qub as mengetahui apa yang bakal terjadi pada putranya Yusuf as dan kelak tahu bahwa Yusuf masih hidup (QS. Yusuf 4-6, 13, 18).5.Nabi Luth as mengetahui bahwa kaumnya akan dibinasakan pada waktu Subuh (QS. Hud 81).6.Nabi Yusuf as mengetahui takwil mimpi dan meramalkan apa yang bakal terjadi pada orang yang bermimpi itu (QS. Yusuf 101, 36-41, 43-49).7.Nabi Shaleh as me-nubuwwat-kan bahwa kaumnya akan menerima azab setelah tiga hari (QS. Hud 64-65; QS. Al-Dzariyyat 43-44).8.Nabi Isa as mengetahui apa yang akan dimakan oleh kaumnya dan apa yang mereka simpan (QS. Ali Imran 49).9.Nabi Muhammad saw  mengetahui bahwa istrinya menyebarkan rahasianya (QS. Al-Tahrim 13)10.Yang sangat terkenal, Nabi Khidhir mengetahui apa yang bakal terjadi dan melakukan berbagai tindakan untuk menghindarkan kecelakaan (QS. Al-Kahf  60-82).Kekuatan dan pengetahuan supranatural juga dapat terjadi pada orang-orang yang bukan Nabi.  Sihir termasuk di antaranya. Kita tidak membicarakan sihir pada kesempatan sekarang, karena kita telah membicarakannya pada waktu yang lain.Kisah Ashaf bin BurkhayaAl-Quran bercerita tentang kisah Nabi Sulaiman as dan Ratu Bilqis: “Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasana-nya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” Berkata Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datangkan kepadamu singgasana itu sebelum kau berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata: Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).” (QS. Al-Naml 38-40) Di sini dikisahkan kekuatan supra-natural yang dimiliki oleh “seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab”. Para ahli tafsir berselisih pendapat tentang orang ini.  Sebagian mengatakan orang ini malaikat Jibril atau malaikat lain yang ditugaskan untuk membantu Nabi Sulaiman as.  Menurut Ibn Abbas orang itu ialah Ashaf bin Burkhaya, wazir Sulaiman. Ia mengetahui nama Allah yang agung, yang bila berdoa dengan nama itu, Allah akan mengabulkannya. Yang lain berkata: Orang itu Nabi Khidhir as. Dr. Al-Zuhaili menulis selanjutnya, “Yang benar adalah pendapat Al-Razi. Orang itu Sulaiman as, karena ia lebih mengetahui Al-Kitab daripada yang lain dan karena ia seorang Nabi.” Tetapi kata Abu Hayyan, “Pendapat yang paling aneh ialah orang itu Nabi Sulaiman. Seakan-akan ia berkata kepada dirinya: Aku akan datangkan kepadamu sebelum matamu berkedip.”Al-Fakhr Al-Razi memang lebih suka menisbatkan orang itu kepada Nabi Sulaiman as dengan alasan: (1) Kata alladzî menurut bahasa menunjukkan orang tertentu; dan orang yang dikenal mengetahui ilmu Al-Kitab adalah Sulaiman as. Ia lebih tahu tentang Al-Kitab karena ia Nabi; (2) Mendatangkan singgasana pada waktu yang begitu cepat menunjukkan derajat yang tinggi. Sekiranya yang melakukan-nya Ashaf, bukan Sulaiman as, tentulah Ashaf lebih utama daripada Sulaiman as. Hal yang tidak mungkin; (3) Sekiranya Sulaiman as memerlukan bantuan Ashaf, berarti kedudukan Sulaiman as kurang di mata manusia; (4) Sulaiman as berkata, “

Ini adalah karunia Tuhanku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau kufur.” Ini menunjukkan bahwa peristiwa yang menakjubkan itu dimunculkan Tuhan karena doa Sulaiman as.Seperti Abu Hayyan, saya kira menisbatkan orang itu kepada Nabi Sulaiman as bertentangan dengan konteks kalimat. Bukankah Sulaiman as meminta kepada para pembesarnya untuk mendatangkan singgasana itu? Jika orang itu Sulaiman as, mata siapa yang berkedip itu?

Sebagaimana pendapat jumhur mufassirin, dan berdasarkan banyak hadis3 , kita harus menisbatkan orang itu kepada Ashaf bin Burkhaya. Ia itu orang yang sangat berilmu, wazir Nabi Sulaiman as, dan dalam satu riwayat disebut-sebut sebagai orang yang diwasiatkan untuk menjalankan pemerintahan sepeninggalnya.Terjadi juga ikhtilaf tentang apa yang dimaksud “ilmu dari Al-Kitab”. Yang paling mashur di kalangan ‘urafâ’, Al-Kitab yang dimaksud adalah Kitab Al-Ma’rifat Al-Rabbaniyyah, yang terdiri dari pengetahuan tentang asma Allah. pengetahuan ini disebut juga sebagai pengetahuan tentang 72 huruf dari 73 huruf kitab makrifat. Dr. Al-Shadiqi menjelaskan tafsir ruhaniah dari ayat di atas sebagai berikut:4 Satu huruf dari Nama yang agung ini dikhususkan kepada Tuhan, yaitu dimensi zat, sifat zat, dan hakikat sifat fi’liyah. Semua huruf yang lain adalah dimensi-dimensi makrifat yang dibagi-kan kepada hamba-hamba Allah yang mukhlis.

Setiap kali bertambah huruf-huruf makrifat ini, bertambahlah syariat yang dipikul oleh pemiliknya. Allah pun menambah penampakkan (mazhhar) pada ayat-ayat pengetahuan dan kekuasaan-Nya, “Wahai hamba-Ku, taatilah Aku sehingga Aku jadikan kamu seperti Aku. Aku berkata kepada sesuatu jadilah, maka ia pun menjadi.” Betapa pun berbedanya “kun” takwiniyah dari Tuhan sendiri.Ashaf bin Burkhaya adalah hamba Allah yang mukhlis. Dengan pensucian dirinya, ia dianugerahi Allah pengenalan akan asma Allah yang Agung. Ia menyerap sifat-sifat Tuhan, termasuk kalimat “kun”. Dengan itu ia mengeluarkan kekuatan yang supranatural, karena ia sudah menjadi mazhhar dari kekuasaan Tuhan. Ia menjadi tajalliyat dari Allah sendiri. Dalam istilah Ibn ‘Arabi, ia menjadi insan kamil. Dengan demikian, manusia selain Nabi, melalui proses pensucian diri dan penyerapan asma Allah, akan sanggup melahirkan peristiwa-peristiwa supranatural. Bukan mukjizat, tetapi keramat. Perbedaan istilah itu juga menunjukkan hirarki kekuatan itu di alam semesta.Contoh lain dalam Al-Quran tentang manusia biasa yang dianugerahi Allah kekuatan supranatural adalah Maryam. Al-Quran melukiskan Maryam sebagai perempuan yang saleh, yang menghabiskan waktunya dalam mihrab. Tuhan menurunkan makanan dari langit ke mihrabnya (QS. Ali Imran 37). Ia juga diberi kekuatan luar biasa untuk menjatuhkan buah kurma dengan menggerakkan batang pohonnya ketika ia sedang dilanda sakit pada waktu melahirkan. (QS. Maryam 23-26).Kisah SamiriAl-Quran juga bercerita tentang seseorang yang berhasil membuat patung yang bisa berbicara. Dengan patung itu, ia membawa Bani Israil yang ditinggalkan Musa as kepada kesesatan (QS. Thaha 88). Ketika Musa as menyaksikan keajaiban patung emas yang dibuat Samiri, berkata Musa, “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) Hai Samiri?” Samiri menjawab, “Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak Rasul lalu aku melemparkannya dan demikianlah nafsuku membujukku.” (QS. Thaha 95-96).Dalam kisah ini, Al-Quran mencerita-kan manusia biasa, bahkan orang yang fasik, berhasil melahirkan kekuatan supranatural, karena ia memanfaatkan “segenggam dari jejak Rasul.” Para ahli tafsir meriwayatkan berbagai keterangan tentang ini. Sebagian mengatakan bahwa ketika Bani Israil menyeberangi Laut Merah, Samiri melihat malaikat Jibril berjalan di hadapannya menunggang kuda. Rasul di situ adalah Jibril. Ia mengambil tanah yang diinjak oleh malaikat. Tanah itu dimasukan ke dalam adonan patung emas yang dibuatnya. Dengan “berkat” tanah itu, patung itu mempunyai kekuatan gaib.

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Rasul di situ adalah Nabi Musa as. Siapa saja yang dimaksud, Al-Quran mengajarkan bahwa orang dapat memperoleh kekuatan gaib dengan mengambil berkat dari jejak Rasul.

Al-Quranberulangkalimenjelaskan kekuatan supranatural yang dianugerahkan Tuhan kepada para rasul. Sulaiman as memahami bahasa burung, menundukkan makhluk gaib seperti jin dan Ifrit, menaklukkan angin sehingga angin bergerak sesuai dengan perintahnya. Daud as melunakkan besi dengan jari-jarinya. Ibrahim as mengubah panas api menjadi dingin dan menghidupkan burung yang sudah dicincang-nya. Musa as mengalahkan tukang-tukang sihir, membelah lautan, dan mengeluarkan air dari bebatuan semuanya dengan tongkatnya. Isa as menyembuhkan yang sakit dan meng-hidupkan yang mati. Yusuf as menyembuhkan kebutaan ayahnya  dengan mengusapkan pakaiannya ke matanya. Muhammad saw  membelah bulan.Di samping kekuatan supranatural, Al-Quran menceritakan juga pengetahuan supra-natural (ilmu gaib) yang dimiliki para Nabi as:

1.Nabi Adam as mengetahui nama-nama  yang tidak diketahui oleh para malaikat (QS. Al-Baqarah 31-33). 2.Nabi Nuh as mengetahui bahwa  tidak akan bertambah orang yang beriman kepadanya dan bahwa orang-orang kafir di tengah-tengah kaumnya hanya akan melahirkan generasi yang durhaka saja (QS. Hud 36; QS. Nuh 26-27). 3.Nabi Ibrahim as melihat (diperlihatkan kepadanya) alam malakut di langit dan bumi (QS. Al-An’am 75).4.Nabi Ya’qub as mengetahui apa yang bakal terjadi pada putranya Yusuf as dan kelak tahu bahwa Yusuf masih hidup (QS. Yusuf 4-6, 13, 18).5.Nabi Luth as mengetahui bahwa kaumnya akan dibinasakan pada waktu Subuh (QS. Hud 81).6.Nabi Yusuf as mengetahui takwil mimpi dan meramalkan apa yang bakal terjadi pada orang yang bermimpi itu (QS. Yusuf 101, 36-41, 43-49).7.Nabi Shaleh as me-nubuwwat-kan bahwa kaumnya akan menerima azab setelah tiga hari (QS. Hud 64-65; QS. Al-Dzariyyat 43-44).8.Nabi Isa as mengetahui apa yang akan dimakan oleh kaumnya dan apa yang mereka simpan (QS. Ali Imran 49).9.Nabi Muhammad saw  mengetahui bahwa istrinya menyebarkan rahasianya (QS. Al-Tahrim 13)10.Yang sangat terkenal, Nabi Khidhir mengetahui apa yang bakal terjadi dan melakukan berbagai tindakan untuk menghindarkan kecelakaan (QS. Al-Kahf  60-82).Kekuatan dan pengetahuan supranatural juga dapat terjadi pada orang-orang yang bukan Nabi.  Sihir termasuk di antaranya. Kita tidak membicarakan sihir pada kesempatan sekarang, karena kita telah membicarakannya pada waktu yang lain.Kisah Ashaf bin BurkhayaAl-Quran bercerita tentang kisah Nabi Sulaiman as dan Ratu Bilqis: “Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasana-nya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” Berkata Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datangkan kepadamu singgasana itu sebelum kau berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata: Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).” (QS. Al-Naml 38-40) Di sini dikisahkan kekuatan supra-natural yang dimiliki oleh “seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab”. Para ahli tafsir berselisih pendapat tentang orang ini.  Sebagian mengatakan orang ini malaikat Jibril atau malaikat lain yang ditugaskan untuk membantu Nabi Sulaiman as.  Menurut Ibn Abbas orang itu ialah Ashaf bin Burkhaya, wazir Sulaiman. Ia mengetahui nama Allah yang agung, yang bila berdoa dengan nama itu, Allah akan mengabulkannya. Yang lain berkata: Orang itu Nabi Khidhir as. Dr. Al-Zuhaili menulis selanjutnya, “Yang benar adalah pendapat Al-Razi. Orang itu Sulaiman as, karena ia lebih mengetahui Al-Kitab daripada yang lain dan karena ia seorang Nabi.” Tetapi kata Abu Hayyan, “Pendapat yang paling aneh ialah orang itu Nabi Sulaiman. Seakan-akan ia berkata kepada dirinya: Aku akan datangkan kepadamu sebelum matamu berkedip.”Al-Fakhr Al-Razi memang lebih suka menisbatkan orang itu kepada Nabi Sulaiman as dengan alasan: (1) Kata alladzî menurut bahasa menunjukkan orang tertentu; dan orang yang dikenal mengetahui ilmu Al-Kitab adalah Sulaiman as. Ia lebih tahu tentang Al-Kitab karena ia Nabi; (2) Mendatangkan singgasana pada waktu yang begitu cepat menunjukkan derajat yang tinggi. Sekiranya yang melakukan-nya Ashaf, bukan Sulaiman as, tentulah Ashaf lebih utama daripada Sulaiman as. Hal yang tidak mungkin; (3) Sekiranya Sulaiman as memerlukan bantuan Ashaf, berarti kedudukan Sulaiman as kurang di mata manusia; (4) Sulaiman as berkata, “

Ini adalah karunia Tuhanku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau kufur.” Ini menunjukkan bahwa peristiwa yang menakjubkan itu dimunculkan Tuhan karena doa Sulaiman as.Seperti Abu Hayyan, saya kira menisbatkan orang itu kepada Nabi Sulaiman as bertentangan dengan konteks kalimat. Bukankah Sulaiman as meminta kepada para pembesarnya untuk mendatangkan singgasana itu? Jika orang itu Sulaiman as, mata siapa yang berkedip itu?

Sebagaimana pendapat jumhur mufassirin, dan berdasarkan banyak hadis3 , kita harus menisbatkan orang itu kepada Ashaf bin Burkhaya. Ia itu orang yang sangat berilmu, wazir Nabi Sulaiman as, dan dalam satu riwayat disebut-sebut sebagai orang yang diwasiatkan untuk menjalankan pemerintahan sepeninggalnya.Terjadi juga ikhtilaf tentang apa yang dimaksud “ilmu dari Al-Kitab”. Yang paling mashur di kalangan ‘urafâ’, Al-Kitab yang dimaksud adalah Kitab Al-Ma’rifat Al-Rabbaniyyah, yang terdiri dari pengetahuan tentang asma Allah. pengetahuan ini disebut juga sebagai pengetahuan tentang 72 huruf dari 73 huruf kitab makrifat. Dr. Al-Shadiqi menjelaskan tafsir ruhaniah dari ayat di atas sebagai berikut:4 Satu huruf dari Nama yang agung ini dikhususkan kepada Tuhan, yaitu dimensi zat, sifat zat, dan hakikat sifat fi’liyah. Semua huruf yang lain adalah dimensi-dimensi makrifat yang dibagi-kan kepada hamba-hamba Allah yang mukhlis.

Setiap kali bertambah huruf-huruf makrifat ini, bertambahlah syariat yang dipikul oleh pemiliknya. Allah pun menambah penampakkan (mazhhar) pada ayat-ayat pengetahuan dan kekuasaan-Nya, “Wahai hamba-Ku, taatilah Aku sehingga Aku jadikan kamu seperti Aku. Aku berkata kepada sesuatu jadilah, maka ia pun menjadi.” Betapa pun berbedanya “kun” takwiniyah dari Tuhan sendiri.Ashaf bin Burkhaya adalah hamba Allah yang mukhlis. Dengan pensucian dirinya, ia dianugerahi Allah pengenalan akan asma Allah yang Agung. Ia menyerap sifat-sifat Tuhan, termasuk kalimat “kun”. Dengan itu ia mengeluarkan kekuatan yang supranatural, karena ia sudah menjadi mazhhar dari kekuasaan Tuhan. Ia menjadi tajalliyat dari Allah sendiri. Dalam istilah Ibn ‘Arabi, ia menjadi insan kamil. Dengan demikian, manusia selain Nabi, melalui proses pensucian diri dan penyerapan asma Allah, akan sanggup melahirkan peristiwa-peristiwa supranatural. Bukan mukjizat, tetapi keramat. Perbedaan istilah itu juga menunjukkan hirarki kekuatan itu di alam semesta.Contoh lain dalam Al-Quran tentang manusia biasa yang dianugerahi Allah kekuatan supranatural adalah Maryam. Al-Quran melukiskan Maryam sebagai perempuan yang saleh, yang menghabiskan waktunya dalam mihrab. Tuhan menurunkan makanan dari langit ke mihrabnya (QS. Ali Imran 37). Ia juga diberi kekuatan luar biasa untuk menjatuhkan buah kurma dengan menggerakkan batang pohonnya ketika ia sedang dilanda sakit pada waktu melahirkan. (QS. Maryam 23-26).Kisah SamiriAl-Quran juga bercerita tentang seseorang yang berhasil membuat patung yang bisa berbicara. Dengan patung itu, ia membawa Bani Israil yang ditinggalkan Musa as kepada kesesatan (QS. Thaha 88). Ketika Musa as menyaksikan keajaiban patung emas yang dibuat Samiri, berkata Musa, “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) Hai Samiri?” Samiri menjawab, “Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak Rasul lalu aku melemparkannya dan demikianlah nafsuku membujukku.” (QS. Thaha 95-96).Dalam kisah ini, Al-Quran mencerita-kan manusia biasa, bahkan orang yang fasik, berhasil melahirkan kekuatan supranatural, karena ia memanfaatkan “segenggam dari jejak Rasul.” Para ahli tafsir meriwayatkan berbagai keterangan tentang ini. Sebagian mengatakan bahwa ketika Bani Israil menyeberangi Laut Merah, Samiri melihat malaikat Jibril berjalan di hadapannya menunggang kuda. Rasul di situ adalah Jibril. Ia mengambil tanah yang diinjak oleh malaikat. Tanah itu dimasukan ke dalam adonan patung emas yang dibuatnya. Dengan “berkat” tanah itu, patung itu mempunyai kekuatan gaib.

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Rasul di situ adalah Nabi Musa as. Siapa saja yang dimaksud, Al-Quran mengajarkan bahwa orang dapat memperoleh kekuatan gaib dengan mengambil berkat dari jejak Rasul.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s